Dengan apa kesengsaraan diingatkan?. Dengan menyalakan lamu?mungkin. seperti peringatan hari anti narkoba yang baru saja lewat. Menyalakan lamu mungkin symbol harapan akan kehidupan ditengah kematian akibat madat. Kisah lamu-lampu peringatan itu seperti nyanyian pilu di tengah anak-anak yang mati atau sekarat karena narkoba keparat. Apa yang bisa diperingati dari perang licik antar Bandar narkoba melawan manusia-manusi yang tak berdaya? Di Jakarta, misalnya anggaran penanggulangan narkoba dalam satu tahun hanya 30 milyar. Tapi transaksi narkoba dalam satu hari bisa mencapai 140 milyar.
Menurut penelitian Badan Narkotika Nasional yang bekerja sama dengan Universitas Indonesia, pengguna narkoba di Indonesia mencapai 3,2 juta jiwa.dari jumlah itu 800 ribu orang mengunakan narkoba dengan alat Bantu jarum suntik . sekitar 60 % pengguna jarum suntik HIV/AIDS. Jumlah itu terus meningkat setiap tahun. Penelitian itu dilakukan di 33 provinsi. Yang lebih miris, 32 % dari angka total jumlah pengguna narkoba secara nasional itu adalah pelajar dan mahasiswa. Pada setiap 100 orang pelajar dan mahasiswa terdapat lima orang pemakai narkoba. Bahkan, pemakai narkoba juga sudah merambah ke anak-anak SD. Hampir 8000 pelajar SD mengkonsumsi narkoba. Kebanyakan menghirup lem.
Dengan apa kematian dihormati? Dengan upacara ? ya, bila itu seperti kematian para tentara yang tewas akibat pesawatnya jatuh berkeping-keping. Ada tangis, ada duka. Tapi mereka pergi dalam tugas. TNI AU di desak agar melibatkan pihak lain dalam menyelidiki sebab-sebab jatuhnya pesawat itu. Harapanya ,tidak ada dugaan akan ada yang ditutup tutupi. Tentu agar kecelakaan tidak terulang kembali.
Dengan apa kematian diratapi? Dengan demo membawa keranda di DPR? Mungkin. Seperti kematian mahasiswa Unas setelah Polisi menyerbu kampus itu, memukuli mahasiswa dan menahan sebagian mereka. Satu dari yang ditahan itu meninggal. Laporan dokter sempat menyebut seluruh organnya tidak berfungsi akibat inveksi meyeluruh. Rector Unas menyebut pemukulan di kepala mempengaruhi kematiannya.
Segala upacara hanyalah peringatan tentang hidup atau mati. Segala seremonial tak lebih adalah pelepasan segala hajat. Bagai mana memperpanjang hidup dan menahan kematian, dari waktu demi waktu, dalam batas ikhtiar bukan batas takdir. Diantara kedua kutub itu, diantara hidup dan mati, kita berlomba. Bandar berlomba hidup dengan membunuh, Tentara dididik mengabdi dan mengorbankan hidup. Polisi benyerbu dan ada yang kehilangan hidup. Sementara yang lain, berjuang menghayati arti hidup, bahkan bilapun hanya dengan seremoni, peringatan dan upacara.
Sumber: Majalah Tarbawi: Edisi 183/ juli 2008.